Sabtu, 06 Juni 2015

Mars Vs Venus


Sudah banyak buku yang saya baca tapi ada buku yang menarik yang mungkin anda harus tahu. Disini saya akan membahas bukunya John Gray penulis asal inggris.

John Gray dalam bukunya mengatakan, Lak-laki adalah mars dan wanita adalah venus. Didalam bukunya dia mengatakan ada 12 jenis cinta yang sama-sama dibutuhkan baik laki-laki maupun perempuan, Cuma tata urut dan priotasnyalah yang berbeda. Ada yang menggambarkan wanita perlu menerima yang paling utama yaitu; perhatian, pengertian, kehormatan, kesetiaan, penegasan dan jaminan. Sementara pria ada yang menggambarkan mereka membutuhkan; penghasilan, penerimaan, kepercayaan, persetujuan, dorongan dan kekaguman. Namun didalam bukunya ia menjelaskan ada perbedaan mendasar kesalahan seorang pasangan, kesalahan umum seorang wanita adalah selalu berusaha memberi nasihat kepada pasangannya. Sedangkan kesalahan umum seorang pria adalah kemampuan mendengarnya yang kurang (peka).

Terlepas dari itu kita kerap mendengar kecemburuan dengan kata ”surga ditelapak kaki ibu” dan ibu disebut tiga kali sebelum ayah. Lalu dimana sosok ayah?
Saya pernah membaca surat yang sangat indah yang seorang ibu mengirimkan kepada anaknya, yaitu; ”Anakku memang ayah tak mengandungmu, tapi darahnya mengalir didarahmu, namanya melekat dinamamu. Nak, ayah memang tak menjagamu setiap saat tapi taukah kau didalam doanya selalu ada namamu disebutnya. Tangisan ayah mungkin tak pernah kau dengar karena dia ingin terlihat kuat agar kau tak ragu untuk berlindung dilengannya dan dadanya ketika kau merasa tak aman, pelukan ayah mu mungkin tak sehangat dan seerat bunda karena kecintaannya dia takut tak sanggup melepaskanmu, dia ingin kau mandiri agar ketika kami tiada kau sanggup menghadapi semua sendiri, bunda hanya ingin kau tahu nak bahwa cinta ayah kepadamu sama besarnya dengan cinta bunda, anakku jadi didirinya juga terdapat surga bagimu. Maka hormati dan sayangi ayahmu”

Dalam urutan tata surya, mars dan venus mengapit bumi dia seperti ibu dan bapak yang berjalan seiring membawa dan membimbing anaknya dalam kesetaraan dan saling menyempurnakan.
Sebenarnya lelaki dengan wanita memang sudah ditakdirkan untuk berpasang-pasangan, kata terakhir dari saya adalah ”lelaki yang bahagia akan merasa dirinya sempurna ketika berpasangan dengan wanita yang mampu menutupi setiap kekurangannya, dan wanita yang sempurna adalah wanita yang menemukan lelaki bahagia tadi

Jumat, 22 Mei 2015

Menyambut Ramadhan



Sebenarnya, alangkah baik, bila kita merasa salah dan meminta maaf tanpa harus menunggu atau mengingat bahwa esok atau lusa adalah bulan ramadhan. Pun begitu sebaliknya tak perlu meminta maaf jika tidak ada yang salah walau bila dikaji bisa saja banyak salah karena hakekat manusia yang tidak luput dari salah pada waktu yang lalu.

Dalam dua hari ini, saya menerima beberapa SMS atau juga membaca status FB yang umumnya menyampaikan sambutan atau pun mohon maaf karena sebentar lagi ramadhan. Bukan saya tak menghargai pesan tersebut namun dalam beberapa bentuk, saya jadi tersadar. Saya tak mengenal lagi pemberi pesan. Begini, kawan mungkin tak asing dengan pesan baku yang sangat kaku. Atau pesan kreatif yang mungkin juga unik. Misalnya, “Kami dari Keluarga Besar bla, bla, bla… mohon maaf, bla, bla, bla”. Atau, “ Saat langit memerah, dan azan berkumandang, bla, bla, bla,… mohon maaf bla, bla, bla”

Pesan baku yang tersusun kaku itu seperti stiker yang di tempelkan pada kening-kening yang tak bernyawa. Bolehlah tahu nama, namun itu hanya sebatas nomer-nomer. Mengingat pengalaman sebelumnya, saya juga pernah melakukan hal yang sama. Saya beberapa kali mengirim pesan via SMS dengan ucapan permohonan maaf yang sama kaku. Jujur, saya melakukannya dengan terpaksa karena banyak pesan yang masuk dengan isi yang hampir sama. Maka saya membalasnya dengan yang sama pula. Ya, sama-sama kaku jadinya.

Pernah saya membalas dengan sepenggal kalimat, “Sama-sama, saya juga minta maaf. Lagi dimana?” Tidak berbalas, tidak terjawab. Pesan itu ternyata cuma syarat rupanya. Untuk bisa meminta maaf dan juga merasa sudah meminta maaf.

Beranjak dari situ saya sudah tidak lagi membuat pesan-pesan kaku yang umumnya basi. Pun begitu pula saya juga tidak membalas lagi pesan-pesan kaku itu. Malah cendrung mengabaikannya. Kadang untuk beberapa teman malah saya becandai, dengan menanya, “ini siapa?” Sang teman malah sewot, “ Sudah kayak artis aja tidak ingat kawan!!”. Kalau sudah begini, saya malah semakin menggodanya. Dan pada akhirnya saling berbalas SMS hingga ucapan selamat menunaikan ibadah puasa dan mohon maaf bukan lagi basa-basi.

Kini bila saya ingin mengirim pesan via sms dan ingin mengucapkan selamat berpuasa tentu dalam bentuk pesan personal. Walau pendek namun tepat pada sasaran, “Selamat puasa Mbak Ana, mohon maaf ya kalau selama ini banyak salah.”

Pada prinsipnya saya akan menyapa nama teman-teman dalam pesan. Walau ribet dan agak repot karena banyak teman dan tentu dengan bentuk pesan yang agak berbeda. Namun kalau memang niatnya tulus untuk meminta maaf dan bukan karena sebentar lagi memasuki Bulan Ramadhan maka pesan (SMS) itu akan menjadi benar-benar bermakna tentunya. Bukan Begitu?

Akhir kata, semoga puasa di Bulan Ramadhan kali ini akan banyak memberikan berkah kepada kita. Aamiin.